Dalam raga ada hati, dan dalam hati ada ruang tak bernama. Di tanganmu
tergenggam kuncinya.
Ruang itu mungil, isinya lebih halus dari serat sutera, berkata2 dengan
bahasa yang hanya dipahami oleh nurani
Begitu lemahnya ia berbisik, sampai kadang2 engkau tak terusik. Hanya
kehadirannya yang terus terasa, dan bila ada apa2 dengannya duniamu runtuh
bagai pelangi meluruh usai gerimis...
Tahukah engkau bahwa cinta yang tersesat adalah pembuta dunia? Sinarnya
menyilaukan hingga engkau terperangkap, dan hatimu menjadi sasaran sekalinya
engkau tersekap.
Banyak garis batas memuai begitu engkau terbuai, dan dalam puja engkau
sedia serahkan segala
Kunci kecil itu kau anggap pemberian paling berharga
Satu garis jangan sampai kau tepis : membuka diri tidak sama dengan
menyerahkannya...
Di ruang kecil itu, ada teras untuk tamu.
Hanya engkau yang berhak ada di dalam inti hatimu sendiri...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar