Ketika
mendengar kata “pendidik”, yang ada di kepala kita biasanya sebuah sosok yang
berdiri di depan kelas dan mengajar. Seorang guru. Padahal, pendidik itu tidak
melulu hadir dalam sosok seorang manusia yang berprofesi sebagai seorang guru.
Bisa saja seorang pendidik itu hadir dalam sosok orangtua, teman, manusia
lainnya, bahkan kejadian-kejadian yang membuat kita menjadi lebih cerdas dan
bijak.
Seorang pendidik yang baik, tidak hanya membuat para muridnya menjadi pintar dan hafal semua rumus dan istilah-istilah yang dianggap penting, tapi juga seseorang yang harus mampu membuat anak didiknya menjadi manusia yang lebih cerdas dan bijak. Lalu apa cerdas dan bijak itu?
Menurut saya, “pintar” itu bersifat lebih akademis - sedangkan “cerdas” lebih mengacu kepada kemampuan untuk berpikir. Orang yang pintar belum tentu cerdas, juga sebaliknya. Karena orang yang pintar itu dibentuk oleh sekolah dan institusi lainnya, sementara orang yang cerdas itu dibentuk oleh seseorang atau bahkan suatu kejadian yang merangsang cara berpikirnya sehingga dia dapat “hidup” di mana pun dia berada.
Tidak mudah menjadi seorang pendidik yang dapat mencerdaskan, karena terus terang tidak semua pendidik itu sendiri cerdas. Orang yang berpemikiran sempit, misalnya, sudah pasti dia bukanlah orang yang bijak. Dan orang yang tidak bijak bukanlah orang yang cerdas. Lalu jika dia sendiri tidak cerdas, bagaimana mampu mencerdaskan orang lain?
Pendidik adalah pencipta iklim di sebuah ruang kelas, sekaligus seorang yang mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi perasaan dan cara berpikir para muridnya. Ia bisa saja melukai, mempermalukan, menyembuhkan, atau mendorong semangat anak didiknya. Ia bisa saja membuat anak didiknya tumbuh menjadi manusia yang berjiwa nasionalis, agamis, atau apa pun. Pendidik adalah “cetakan” dan anak didik adalah adonannya. Adonan mengikuti bentuk loyang cetakan, bagaimana pun bentuknya. Dan bentuk si adonan itu bersifat permanen sampai menjadi kue dan dihidangkan di atas sebuah meja. Penikmat kue itu tentu saja masyarakat yang akan dihadapi si anak nantinya.
“Ruang kelas” itu bukan melulu sebuah ruang yang ada dalam sekolah, tapi juga dalam sebuah rumah atau di mana pun saat pembentukan karakter itu berlangsung. Bisa jadi suatu kejadian yang traumatis menjadi ruang kelas si anak, dan orang yang mendampinginya selama masa duka itu adalah guru bagi anak itu.
Seorang pendidik dituntut untuk bersikap tegas. Tidak harus keras, tapi tegas. Seorang pendidik yang bingung dan tidak dapat mengambil keputusan tidak akan menghasilkan calon pemimpin, bahkan mungkin akan menghasilkan seseorang yang tidak tahu kemana hidupnya harus dibawa di masa depan nanti.
Seorang pendidik juga dituntut untuk mempunyai hati yang penuh kasih, karena profesi apa pun yang kita jalani, sebagai apa pun kita, apa pun peran kita jika kita lakukan tanpa kasih maka tidak akan pernah berhasil. Pendidik yang sukses adalah pendidik yang berhasil menyentuh hati anak didiknya, bukan yang berhasil membuat anak didiknya hafal ini dan itu.
Seorang pendidik agama, misalnya, seharusnya sanggup membuat anak didik mencintai Tuhan dan bukan sekedar hafal seluruh ayat dalam Buku Suci. Tidak mudah memang menjadi seorang pendidik, dan kita harus mampu untuk mendidik diri kita sendiri jika ingin menjadi seorang pendidik yang baik. Kita harus mampu mendisiplinkan diri kita, harus mampu mengasihi diri kita sendiri, mengampuni diri sendiri sebelum mengajarkan hal-hal yang luar biasa itu kepada anak didik kita. Mungkin agak klise jika mengambil metafora ini, tapi sebuah lilin tidak akan kelihatan nyalanya jika tidak mau dinyalakan.
Mendidiklah dengan perasaan, dan bukan hanya dengan pikiran. Karena manusia tanpa perasaan bukanlah manusia, dan manusia yang hanya menggunakan pikirannya tak ubahnya sebuah robot. Ada, namun mati. Pintar, tapi tidak bijak.
Menjadi pendidik itu tugas kita semua, apa pun profesi kita. Dan menjadi murid pun adalah tugas kita. Kita semua adalah guru sekaligus murid bagi orang lain.
Jadi, selamat mengajar dan selamat “bersekolah” :))
Seorang pendidik yang baik, tidak hanya membuat para muridnya menjadi pintar dan hafal semua rumus dan istilah-istilah yang dianggap penting, tapi juga seseorang yang harus mampu membuat anak didiknya menjadi manusia yang lebih cerdas dan bijak. Lalu apa cerdas dan bijak itu?
Menurut saya, “pintar” itu bersifat lebih akademis - sedangkan “cerdas” lebih mengacu kepada kemampuan untuk berpikir. Orang yang pintar belum tentu cerdas, juga sebaliknya. Karena orang yang pintar itu dibentuk oleh sekolah dan institusi lainnya, sementara orang yang cerdas itu dibentuk oleh seseorang atau bahkan suatu kejadian yang merangsang cara berpikirnya sehingga dia dapat “hidup” di mana pun dia berada.
Tidak mudah menjadi seorang pendidik yang dapat mencerdaskan, karena terus terang tidak semua pendidik itu sendiri cerdas. Orang yang berpemikiran sempit, misalnya, sudah pasti dia bukanlah orang yang bijak. Dan orang yang tidak bijak bukanlah orang yang cerdas. Lalu jika dia sendiri tidak cerdas, bagaimana mampu mencerdaskan orang lain?
Pendidik adalah pencipta iklim di sebuah ruang kelas, sekaligus seorang yang mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi perasaan dan cara berpikir para muridnya. Ia bisa saja melukai, mempermalukan, menyembuhkan, atau mendorong semangat anak didiknya. Ia bisa saja membuat anak didiknya tumbuh menjadi manusia yang berjiwa nasionalis, agamis, atau apa pun. Pendidik adalah “cetakan” dan anak didik adalah adonannya. Adonan mengikuti bentuk loyang cetakan, bagaimana pun bentuknya. Dan bentuk si adonan itu bersifat permanen sampai menjadi kue dan dihidangkan di atas sebuah meja. Penikmat kue itu tentu saja masyarakat yang akan dihadapi si anak nantinya.
“Ruang kelas” itu bukan melulu sebuah ruang yang ada dalam sekolah, tapi juga dalam sebuah rumah atau di mana pun saat pembentukan karakter itu berlangsung. Bisa jadi suatu kejadian yang traumatis menjadi ruang kelas si anak, dan orang yang mendampinginya selama masa duka itu adalah guru bagi anak itu.
Seorang pendidik dituntut untuk bersikap tegas. Tidak harus keras, tapi tegas. Seorang pendidik yang bingung dan tidak dapat mengambil keputusan tidak akan menghasilkan calon pemimpin, bahkan mungkin akan menghasilkan seseorang yang tidak tahu kemana hidupnya harus dibawa di masa depan nanti.
Seorang pendidik juga dituntut untuk mempunyai hati yang penuh kasih, karena profesi apa pun yang kita jalani, sebagai apa pun kita, apa pun peran kita jika kita lakukan tanpa kasih maka tidak akan pernah berhasil. Pendidik yang sukses adalah pendidik yang berhasil menyentuh hati anak didiknya, bukan yang berhasil membuat anak didiknya hafal ini dan itu.
Seorang pendidik agama, misalnya, seharusnya sanggup membuat anak didik mencintai Tuhan dan bukan sekedar hafal seluruh ayat dalam Buku Suci. Tidak mudah memang menjadi seorang pendidik, dan kita harus mampu untuk mendidik diri kita sendiri jika ingin menjadi seorang pendidik yang baik. Kita harus mampu mendisiplinkan diri kita, harus mampu mengasihi diri kita sendiri, mengampuni diri sendiri sebelum mengajarkan hal-hal yang luar biasa itu kepada anak didik kita. Mungkin agak klise jika mengambil metafora ini, tapi sebuah lilin tidak akan kelihatan nyalanya jika tidak mau dinyalakan.
Mendidiklah dengan perasaan, dan bukan hanya dengan pikiran. Karena manusia tanpa perasaan bukanlah manusia, dan manusia yang hanya menggunakan pikirannya tak ubahnya sebuah robot. Ada, namun mati. Pintar, tapi tidak bijak.
Menjadi pendidik itu tugas kita semua, apa pun profesi kita. Dan menjadi murid pun adalah tugas kita. Kita semua adalah guru sekaligus murid bagi orang lain.
Jadi, selamat mengajar dan selamat “bersekolah” :))
Tidak ada komentar:
Posting Komentar