Kata orang, kita harus selalu berpikir positif.
Tapi kurang lebih dua minggu yang lalu saya belajar satu hal: Tidak semua yang
positif itu baik.
Berawal dari pengakuan seorang teman yang mendadak mengatakan pada saya, “Gue positif.” Dan saya sungguh mengerti apa kata arti “positif” dalam kalimatnya, tanpa harus bertanya. Saya terhenyak, tapi berusaha untuk tetap tenang. Ekspresi wajah saya pun ketika itu (mudah-mudahan, sepertinya) biasa saja. Bukan saya tidak bersimpati, atau sudah menduga sebelumnya, tapi karena saya tidak ingin mendramatisir suasana. Kalau saya menunjukkan rasa iba saya, dia akan semakin sedih. Perasaan itu adalah hal yang paling gampang menular. Saya ingin dia kuat, karenanya saya mencoba untuk “biasa saja”.
Berawal dari pengakuan seorang teman yang mendadak mengatakan pada saya, “Gue positif.” Dan saya sungguh mengerti apa kata arti “positif” dalam kalimatnya, tanpa harus bertanya. Saya terhenyak, tapi berusaha untuk tetap tenang. Ekspresi wajah saya pun ketika itu (mudah-mudahan, sepertinya) biasa saja. Bukan saya tidak bersimpati, atau sudah menduga sebelumnya, tapi karena saya tidak ingin mendramatisir suasana. Kalau saya menunjukkan rasa iba saya, dia akan semakin sedih. Perasaan itu adalah hal yang paling gampang menular. Saya ingin dia kuat, karenanya saya mencoba untuk “biasa saja”.
Hal positif lainnya yang sebenarnya negatif
adalah ketika seorang perempuan yang belum siap untuk menimang anak menemukan
test urinnya positif. Anak memang adalah hal positif, karena anak adalah hadiah
dari Tuhan. Tapi tidak semua yang baik itu tiba di waktu yang tepat. Salahkah timing Tuhan? Tidak. Tuhan tidak pernah
salah, dan Tuhan selalu punya waktuNya sendiri. Lalu mengapa ada kehamilan di
luar nikah, sementara ada orang yang lama menikah tapi belum juga dikaruniai
anak?
Mungkin karena yang belum menikah dianggap Tuhan sudah siap mempunyai anak, dan justru yang sudah menikah memang menurutNya belum siap untuk diberi rejeki sebesar itu. Mungkin. Siapalah kita ini, sehingga kita dapat menyelami dalamnya pikiran Tuhan?
Kembali ke masalah positif tadi.
Saya sungguh setuju dengan pemikiran bahwa sikap dan pemikiran yang positif lebih baik dari pesimisme. Tapi ada kalanya orang jadi dibutakan oleh sikap dan pemikiran positif sampai tidak mampu berpikir lagi secara realistis.
Manusia memang harus punya iman dan punya harapan, tapi bukan berarti lalu jadi harus lengah ketika ada hal buruk datang dan menghancurkan harapan-harapannya. Justru pemikiran negatif masih diperlukan, seperti kata pepatah usang yang membosankan itu: Sedia payung sebelum hujan.
Bisa jadi memang saya manusia yang kurang beriman ya? Tapi sejauh ini, saya merasa bahwa ketika saya terpuruk, saya tidak pernah berada di keterpurukan saya dalam waktu yang terlalu lama dan dalam lubang yang terlalu dalam. Karena selain punya sisi positif, saya juga selalu punya persediaan rasa negatif dalam kantung saya - yang saya tebarkan ketika saya berjalan menggapai harapan saya.
Tidak semua hal yang baik itu positif, dan tidak semua yang buruk itu negatif. Seperti mata uang, sebaik-baiknya suatu hal dan seburuk-buruknya sesuatu, pasti memiliki keduanya: sisi positif dan sisi negatif. Yang penting, jangan pernah menyerah. Itu saja.
Seperti halnya sebuah baterai. Ia tidak mungkin menggerakkan apa pun jika tidak punya sisi negatif dan kedua kutubnya positif semua. Ya kan?
Saya tahu. Kamu pasti akan menjawab dengan “ya” :))
Mungkin karena yang belum menikah dianggap Tuhan sudah siap mempunyai anak, dan justru yang sudah menikah memang menurutNya belum siap untuk diberi rejeki sebesar itu. Mungkin. Siapalah kita ini, sehingga kita dapat menyelami dalamnya pikiran Tuhan?
Kembali ke masalah positif tadi.
Saya sungguh setuju dengan pemikiran bahwa sikap dan pemikiran yang positif lebih baik dari pesimisme. Tapi ada kalanya orang jadi dibutakan oleh sikap dan pemikiran positif sampai tidak mampu berpikir lagi secara realistis.
Manusia memang harus punya iman dan punya harapan, tapi bukan berarti lalu jadi harus lengah ketika ada hal buruk datang dan menghancurkan harapan-harapannya. Justru pemikiran negatif masih diperlukan, seperti kata pepatah usang yang membosankan itu: Sedia payung sebelum hujan.
Bisa jadi memang saya manusia yang kurang beriman ya? Tapi sejauh ini, saya merasa bahwa ketika saya terpuruk, saya tidak pernah berada di keterpurukan saya dalam waktu yang terlalu lama dan dalam lubang yang terlalu dalam. Karena selain punya sisi positif, saya juga selalu punya persediaan rasa negatif dalam kantung saya - yang saya tebarkan ketika saya berjalan menggapai harapan saya.
Tidak semua hal yang baik itu positif, dan tidak semua yang buruk itu negatif. Seperti mata uang, sebaik-baiknya suatu hal dan seburuk-buruknya sesuatu, pasti memiliki keduanya: sisi positif dan sisi negatif. Yang penting, jangan pernah menyerah. Itu saja.
Seperti halnya sebuah baterai. Ia tidak mungkin menggerakkan apa pun jika tidak punya sisi negatif dan kedua kutubnya positif semua. Ya kan?
Saya tahu. Kamu pasti akan menjawab dengan “ya” :))
Tidak ada komentar:
Posting Komentar